RSS

Sejarah Candi Rambut Monte

16 Mar

Jawa Timur adalah salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang digemari. Hampir di setiap kota atau kabupaten memilik daya tarik pariwisatanya tersendiri. Tujuan wisata di Jawa Timur meliputi wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata belanja dan wisata kuliner. Jika anda ingin berwisata budaya, jawa Timur memiliki banyak lokasi wisata yang sarat dengan sejarah dan kebudayaan, misalnya candi rambut monte di Blitar yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit, yaitu Candi Rambut Monte. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Candi rambut Monte merupakan tempat pemujaan bagi penganut agama Hindu pada jaman Kerajaan Majapahit. Candi ini terbuat dari batu andesit dan berbentuk segi empat. Bagian yang tersisa dari Candi ini hanyalah Kamadathu atau kaki Candi dan Rupadathu atau badan Candi. Pada samping candi terdapat artefak yang menyerupai Lingga Yoni, lambang kesuburan. Artefak yang menyerupai Lingga Yoni itu berukir sulur-sulur gelung.

Di depan artefak yang menyerupai lingga-yoni, terdapat kepala kala. Kala adalah anak dewa Siwa yang disimbolkan dengan raksasa berwajah menyeramkan. Uniknya kepala kala ini bentuknya tidak seperti Kala yang digambarkan pada umumnya, yaitu kepala raksasa berambut gimbal bertanduk dengan taring yang tajam. Jika diamati kepala kala ini seperti kepala manusia dalam posisi merangkak.

Salah satu daya tarik dari Candi Rambut Monte adalah sumber mata air yang terdapat di sekitar candi. Mata air ini sangat besar dan membentuk sebuah telaga. Airnya sangat jernih sehingga kita dapat melihat ikan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup disana. Telaga ini dihuni oleh ratusan ikan langka yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Ikan itu disebut Sengakring yang artinya ikan dewa.

Konon, menurut masyarakat sekitar jumlah ikan Sengakring ini dari dulu hingga sekarang tidak berubah, tidak berkurang dan tidak bertambah. Oleh karena itu, meskipun ikan-ikan ini nampak jinak, tetapi tidak seorangpun yang berani menangkapnya. Kepercayaan masyarakat sekitar mengenai ikan-ikan keramat itu berdasarkan legenda yang beredar sejak dahulu kala, konon dulu di lokasi ini terjadi perkelahian antara Rahwana dan Naga melawan Mbah Rambut Monte, keturunan Kerajaan Majapahit.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah rambut Monte. Mbah Rambut Monte kemudian mengutuk Rahwana dan Naga menjadi candi berbentuk monyet dan relief Naga. Mbah Rambut Monte berpesan kepada sejumlah muridnya agar menjaga batu candi yang berwujud Rahwana dan relief Naga. Namun karena sebagian muridnya tidak mematuhi perintahnya , Mbah Rambut Monte marah besar dan mengutuk murid-muridnya menjadi ikan Sengakring yang hingga saat ini masih mendiami telaga.

Candi Rambut Monte ini merupakan salah satu wisata edukasi dan budaya yang menarik. Kita dapat melihat langsung tempat beribadat masyarakat Hindu-Buddha di jaman kerajaan Majapahit. Selain sebagai tempat wisata, tempat ini dianggap sebagai tempat pemujaan yang dapat mendatangkan berkah. Banyak orang yang datang kesana bukan hanya berwisata dan melihat bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Namun mereka mengharap berkah dengan melaksanakan ritual membakar dupa di depan candi atau memberi makan ikan-ikan keramat yang dianggap bisa memberikan kesuksesan di dalam usaha mereka.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: