RSS

Sejarah Candi Rambut Monte

Jawa Timur adalah salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang digemari. Hampir di setiap kota atau kabupaten memilik daya tarik pariwisatanya tersendiri. Tujuan wisata di Jawa Timur meliputi wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata belanja dan wisata kuliner. Jika anda ingin berwisata budaya, jawa Timur memiliki banyak lokasi wisata yang sarat dengan sejarah dan kebudayaan, misalnya candi rambut monte di Blitar yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit, yaitu Candi Rambut Monte. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Candi rambut Monte merupakan tempat pemujaan bagi penganut agama Hindu pada jaman Kerajaan Majapahit. Candi ini terbuat dari batu andesit dan berbentuk segi empat. Bagian yang tersisa dari Candi ini hanyalah Kamadathu atau kaki Candi dan Rupadathu atau badan Candi. Pada samping candi terdapat artefak yang menyerupai Lingga Yoni, lambang kesuburan. Artefak yang menyerupai Lingga Yoni itu berukir sulur-sulur gelung.

Di depan artefak yang menyerupai lingga-yoni, terdapat kepala kala. Kala adalah anak dewa Siwa yang disimbolkan dengan raksasa berwajah menyeramkan. Uniknya kepala kala ini bentuknya tidak seperti Kala yang digambarkan pada umumnya, yaitu kepala raksasa berambut gimbal bertanduk dengan taring yang tajam. Jika diamati kepala kala ini seperti kepala manusia dalam posisi merangkak.

Salah satu daya tarik dari Candi Rambut Monte adalah sumber mata air yang terdapat di sekitar candi. Mata air ini sangat besar dan membentuk sebuah telaga. Airnya sangat jernih sehingga kita dapat melihat ikan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup disana. Telaga ini dihuni oleh ratusan ikan langka yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Ikan itu disebut Sengakring yang artinya ikan dewa.

Konon, menurut masyarakat sekitar jumlah ikan Sengakring ini dari dulu hingga sekarang tidak berubah, tidak berkurang dan tidak bertambah. Oleh karena itu, meskipun ikan-ikan ini nampak jinak, tetapi tidak seorangpun yang berani menangkapnya. Kepercayaan masyarakat sekitar mengenai ikan-ikan keramat itu berdasarkan legenda yang beredar sejak dahulu kala, konon dulu di lokasi ini terjadi perkelahian antara Rahwana dan Naga melawan Mbah Rambut Monte, keturunan Kerajaan Majapahit.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah rambut Monte. Mbah Rambut Monte kemudian mengutuk Rahwana dan Naga menjadi candi berbentuk monyet dan relief Naga. Mbah Rambut Monte berpesan kepada sejumlah muridnya agar menjaga batu candi yang berwujud Rahwana dan relief Naga. Namun karena sebagian muridnya tidak mematuhi perintahnya , Mbah Rambut Monte marah besar dan mengutuk murid-muridnya menjadi ikan Sengakring yang hingga saat ini masih mendiami telaga.

Candi Rambut Monte ini merupakan salah satu wisata edukasi dan budaya yang menarik. Kita dapat melihat langsung tempat beribadat masyarakat Hindu-Buddha di jaman kerajaan Majapahit. Selain sebagai tempat wisata, tempat ini dianggap sebagai tempat pemujaan yang dapat mendatangkan berkah. Banyak orang yang datang kesana bukan hanya berwisata dan melihat bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Namun mereka mengharap berkah dengan melaksanakan ritual membakar dupa di depan candi atau memberi makan ikan-ikan keramat yang dianggap bisa memberikan kesuksesan di dalam usaha mereka.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Gua Embultuk

Gua Embultuk merupakan sebuah gua alam yang didalamnya penuh dengan stalagmit dan stalaktit. Gua Embultuk terletak di desa Tumpakkepuh, kecamatan Bakung, arah selatan kota Blitar dengan jarak sekitar 40 km. Panjang gua ini sekitar 1500 meter sedang luas dan tingginya sekitar 3 meter. Sepanjang kurang lebih 1,5 km, pesona stalagmit akan membuat anda merasa betah dengan suasana yang mengesankan, suara gemericik air bawah tanah menambah kesan alami. Pengunjung harus memakai lampu petromak dan pakaian ganti.

Gua Embultuk merupakan satu-satunya gua di Blitar yang menyajikan keunikan stalagmitnya pada para pengunjung. Wisata gua ini selalu ramai dikunjungi oleh banyak turis, terutama pada liburan sekolah, dan jalan menuju gua ini pun telah direnovasi sehingga dapat dilalui kendaraan roda empat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Sejarah Aryo Blitar

Dahulu Bangsa Tartar sempat menguasai tanah Blitar, yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit sebagai penguasa nusantara merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya itu mengutus Niluswara untuk memukul mundul Bangsa Tartar.

Sejarah pun Bergulir
Keberhasilan berpihak pada Niluswara. Ia akhirnya dianugerahi gelar Adipati Aryo Blitar I dan memimpin Blitar. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembalinya bangsa Tartar. Namun pada perkembangannya, terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja seorang patih Kadipaten Blitar.

Namun keberuntungan kini beralih. Aryo Blitar I lengser dan senguruh meraih tahta dengan gelar adipati aryo blitar II. Pemberontakan kembali terjadi. Aryo blitar II dipaksa turun oleh Djoko Kandung yang merupakan anak dari Aryo Blitar I. Djoko Kandung adalah anak hasil perkawinan antara Aryo Blitar I dengan Dewi Rayung Wulan.

Kepemimpinan Djoko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda di bumi pertiwi. Sebenarnya rakyat Blitar yang multi etnies telah melakukan perlawanan. Tapi, perlawanan itu diredam oleh Belanda dengan membuat peraturan baru.

Belanda menetapkan Blitar sebagai Gemeente Blitar pada 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150. Momen inilah yang sampai sekarang diakui sebagai hari kelahiran Bumi Bung Karno itu. Pada tahun itu juga dibentuk beberapa kota lain di Indonesia yang berdasarkan catatan sejarah sebanyak 18 Kota yang meliputi kota Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Magelang Semarang, Salatiga, Madioen, Blitar, Malang, Surabaja dan Pasoeroean di Pulau
Jawa serta lainnya di luar Jawa.

Sampai pada kedatangan jepang, Gameente Blitar berubah menjadi Blitar Shi yang penyelenggaraannya dikendalikan oleh peraturan baru bernama Osamu Seerai. Namun jepang sepertinya salah langkah menginjakkan kakinya dikota kecil itu.
Keniscayaan Merdeka
Anak didiknya, PETA mmberontak pada 14 Februari 1945 yang dipimpin seorang terhormat Sudanco Supriyadi. Meski hanya berlangsung beberapa jam dan gagal, pemberontakan itu tercatat sebagai satu-saunya pemberontakan yang dilakukan oleh anak didik kepada pelatihnya di Asia Tenggara dan Asia Timur yang merupakan jajahan negeri sakura itu. pemberontakan itu membuka mata dunia bahwa peluang meraih kemerdekaan dan memukul mundur penjajah masih terbuka lebar.

Pemberontakan itu, diakui atau tidak, telah menginspirasi pemuda-pemuda bangsa ini untuk terus berjuang merampas kembali hak-hak kemerdekaan ang diambil penjajah. Hingga akhirnya Indonsia merdeka yang ditandai pembacaan proklamasi oleh putra terbaik bangsa, Bung Karno, didampingi Bung Hatta.

Tanah yang Terkucilkan
Perihal penempatan makam Bung Karno, yang juga menjadi awal Blitar disebut sebagai Bumi Bung Karno, memang berawal dari niat buruk pemerintah. Konflik antara Soekarno dengan Soeharto adalah biangnya. Pemerintah orde baru menetapkan Blitar sebagi Kotamadaya berdasar pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965. Namun, ternyata Pemerintah orde baru berniat mengucilkan nama Sorkarno beserta Blitar secar politik. Namun kenginan itu ternyata ditolak oleh arus kuat yang melawan.

Alih-alih terkucilkan, masyarkat nusantara mengenal baik Blitar sebagi kota sejarah yang tak akan terlupakan. Blitar semakin ramai dikunjungi hingga kini. Keganasan Bung Karno dalam melawan penjajah mesih terpatri dalam ingatan rakyat Indonesia. Blitar yang dikucilkan menyeruak mekar ke permukaan dan menunjukan bahwa disinilah momen sejarah kemerdekaan terbaik pernah berlangsung. Hadirnya makam Bung Karno yang berpadu dengan momen pemberontakan PETA, menegaskan aura sejarah yang kental di kota kecil itu.

Akhirnya kekangan orde baru lepas benar ketika drama panas 1998 memaksanya bubar. Pemerintahan reformasi menggantikan otokrasi orde baru. Pemerintah baru itu mengeluarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Melalui Undang-undang tersebut, sebutan Kotamadya Blitar disesuaikan menjadi Kota Blitar. Hingga menjelang satu abad usia kota ini, Kota Blitar dihuni oleh sekitar 125 ribu jiwa.

Sebenarnya era orde baru telah memberikan banyak sumbangan pembangunan pada bangsa ini. GBHN dan repelita tercatat sejarah sebagai garis visi bangsa yang cemerlang. Kegemilangan ini didukung oleh realita pembangunan yang terus berjalan maju. Angka pertumbuhan ekonomi berjalan membaik. Era ini juga berhasil meyakinkan rakyat bahwa negara tak akan kekurangan pangan. Terbukti swasebada pangan tecatat beberapa kali diraih.

Tapi sistem sentralistik yang mengendalikannya begitu mengusik dan mengganggu. Sistem itu seperti menyimpan nyala api yang siap membakar sekam reputasi. Kerobohan banguan orde baru pada 1998 membakar betul reputasi baiknya. Kisah-kisah sukses dan gemilang orde baru seakan terlupa.

Kini era reformasi juga belum berjalan baik. Orientasi politik malah semakin menjadi-jadi. Sistem desentralisasi yang didengung-dengungkan berjalan tertatih-tatih yang makin pincang saja. Pemerataan tak kunjung selesai. Dan sayang, imbas itu merayap hingga menjalar ke Bumi Bung Karno.

Dulu ia sejajar dengan kota-kota lain seperti Batavia (Jakarta), Surabaya dan Bandung. Sebagai pusat administrasi daerah di jaman Belanda, Kota Blitar memiliki posisi yang strategis. Tapi sekarang Blitar telah ketinggalan jauh. Kota-kota itu menjelma menjadi raksasa nusantara, sementara Blitar masih jalan ditempat.

Demi Bumi Bung Karno
Menyedihkan lagi, bila melihat generasi muda Bumi Bung Karno yang semakin tak punya visi. Aku sering melihat mereka tak fokus dalam berpartisipasi membangun tanah kelahirannya. Kongkow-kongkow tak jelas menjadi ajang harian. Memajang diri dengan berbagai kemalasan malah menjadi kebanggaan. Aku juga tak paham mengapa hal ini bisa terjadi. Pendidikan yang menjadi senjata utama pemuda dalam konteks kekinian sekan diacuhkan.

Memang ada beberapa yang gemilang, tapi mayoritas menetang dan menenggelamkan arus situ. Paradigma kenikmatan jangka pendek seakan menggelayuti pikran-pikiran mereka. Budaya-budaya instan dari luar mereka telan mentah-mentah. Sejarah besar kota penting itu seakan pudar lekang ditelan zaman, karena tak dirawat oleh tuan rumahnya sendiri. dan yang menyesakkan, yang menelan bukan orang lain, tapi putera-putera daerahnya sendiri.

Apa mungkin mereka tak tahu kalau para pahlawan di tanah kelahirannya itu rela mampertaruhkan nyawa demi kebebasan dan kemerdekaan. Dan sayang sekali, aku adalah bagian dari mereka. Ya, aku adalah salah satu yang tak tahu sejarah dan mungkin tak tahu balas budi.

Tapi, sejenak aku sadar, bahwa tanahku ini adalah kampung halamanku. Punya visi masa depan adalah kenicscayan bagiku. Siapa lagi yang akan menharumkan kebesaran tanah Balitar ini kalau bukan putera daerahnya sendiri. Reputasi kota kecil itu juga reputasiku. Kalaupun aku dikenal baik oleh orang lain, tapi asalku adalah kubangan lumpur, siapa yang mau melirik?

Peradaban dunia telah terbukti terbangun dengan pondasi pengetahuan. Kesadaran akan perlunya pendidikan harus aku tanamkan pada diri. Harus. Sejarah besar kepahlawanan kotaku harus aku camkan dalam-dalam di relung-relung pikiran. Ini bukan demi siapa-siapa, tapi demi tanah kelahiranku, Bumi Bung Karno.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Sejarah Candi Plumbangan

Candi Plumbangan terletak di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kesamben, Blitar. Letaknya agak jauh dari jalan raya Malang-Blitar, di tengah perumahan. Tidak banyak informasi yang didapat mengenai bangunan kuno ini, kecuali bahwa pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Bangunan yang seluruhnya terbuat dari batu andesit ini berbentuk gapura paduraksa (gapura beratap), mirip dengan bentuk Candi Bajang Ratu di Trowulan. Menilik bentuknya, ada dugaan bahwa Gapura Plumbangan merupakan candi ruwatan sebagaimana halnya Candi Bajang Ratu. Bentuk gapura melambangkan suatu ‘pelepasan’ atau sebagai gunung yang, menurut kepercayaan Syiwais, merupakan tempat tinggal dewa. Namun fungsi bangunan berbentuk gapura paduraksa itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan, karena ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa gapura merupakan tanda batas suatu wilayah atau kompleks bangunan tertentu.

Gapura Plumbangan menghadap timur-barat, dengan ‘sayap’ selebar sekitar 2 m menonjol ke utara dan selatan. Berbeda dengan kaki pada Gapura Wringin Lawang dan Gapura Bajang Ratu yang cukup tinggi, kaki Gapura Plumbangan hanya setinggi sekitar 0,5 m, dengan 2 anak tangga di kedua sisi. Ketebalan gapura pun hanya sekitar 0,5 m. Tidak terdapat pahatan hiasan apapun pada gapura ini, baik pada dinding dalam maupun dinding luarnya. Atapnya berbentuk meru bersusun dengan puncak persegi empat.

Sekitar 6 m dari gapura ke arah tenggara, terdapat sebuah prasasti yang disebut Prasasti Plumbangan. Prarasti ini telah dibuatkan tatakan dari semen dan diberi atap seng. Tidak diketahui apakah letaknya semula memang di tempat tersebut. Tulisan yang terpahat pada prasasti sangat tipis, nyaris tak terbaca. Tidak didapat informasi mengenai isi prasasti tersebut.

Tampaknya bangunan kuno ini belum sepenuhnya berhasil dipugar. Di sekeliling pelataran tertata batu-batu berbagai bentuk yang belum diketahui fungsinya maupun letak dan susunan aslinya.

Di antara batu-batu tersebut, banyak yang berlubang di atasnya yang kelihatannya seperti bekas umpak. Di antaranya juga terdapat beberapa bentuk yoni yang telah rusak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Sejarah Candi Sawentar

Candi Sawentar terletak di Dukuh Kanigoro, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, tepatnya di sebelah timur Kota Blitar. Letak candi lebih rendah dari permukaan tanah di sekelilingnya. Untuk waktu yang cukup lama candi ini tertimbun dalam tanah dan baru digali kembali pada tahun 1915 sampai 1920. Candi yang berdenah dasar persegi dengan luas 9,53 X 6,86 m, ini sangat mirip dengan Candi Kidal.
Tubuh candi berdiri di atas batur seluas 7 X 7 m2, dengan tinggi sekitar 1,5 m. Tinggi candi sampai ke puncaknya mencapai 10,65 m. Tubuh candi lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan kakinya, sehingga terbentuk selasar sempit di sekelilingnya. Pintu candi terletak di sisi barat, diapit oleh relung kecil di kiri dan kanannya.
Dia atas ambang pintu maupun relung tidak terdapat hiasan kepala Kala. Kedua relung dalam keadaan kosong tanpa arca.Pada dinding luar tubuh candi, di sisi utara dan selatan juga terdapat relung tempat meletakkan arca yang saat ini dalam keadaan kosong. Berbeda dengan pintunya, justru di atas ambang masing-masing relung ini terdapat pahatan kepala Kala lengkap dengan rahang bawah.
Untuk naik ke atas batur, di depan pintu candi terdapat tangga selebar sekitar 0,5 m. Tangga yang menjorok keluar batur ini dilengkapi dengan pipi tangga yang agak tebal, polos tanpa pahatan, kecuali sepasang kepala naga di kakinya. Dinding luar pipi tangga dihiasi pahatan sayap burung dalam bentuk pola geometris yang khas. Lantai ruang dalam dan relung di ketiga sisi tubuh candi letaknya sedikit lebih tinggi dari lantai selasar, oleh karenanya di depan pintu dan masing-masing relung terdapat tangga kecil yang juga dilengkapi dengan pipi tangga.

Dalam garba grha, ruangan dalam tubuh candi, terdapat sebuah yoni dengan pahatan garuda pada alasnya. Diduga candi ini digunakan untuk memuja Wishnu, karena garuda merupakan kendaraan Dewa Wisnu. Pada dinding terdapat pahatan bermotif salib Portugis.
Atap candi berbentuk susunan tiga buah kotak persegi empat yang makin ke atas makin mengecil. Pada tepian kotak terdapat pahatan yang tampak seperti tulisan. Di tengah dan sudut masing-masing kotak terdapat hiasan dengan pahatan yang halus. Puncak atap dalam keadaan rusak. Mungkin kerusakan tersebut disebabkan oleh posisinya yang paling dekat dengan permukaan pada saat candi ini tertimbun tanah. Perbedaan tingkat kerumitan pahatan di bagian atap dan tubuh bagian atas dibandingkan dengan pahatan di kaki dan tubuh bagian bawah menimbulkan bahwa pembuatan Candi Sawentar belum sepenuhnya selesai.

Belum diketahui kapan tepatnya candi yang dianggap sebagai wujud peralihan tipe candi Jawa Timur lama ke tipe yang lebih akhir. Menurut perkiraaan, pembangunannya dilakukan pada awal sampai pertengahan abad 13 M.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Sejarah Candi Simping

Candi simping adalah makam raja Raden Wijaya (raja pertama dari dinasti Majapahit) yang bergelar Shri Kertarajasa Jayawardhana. Keterangan ini terdapat pada kitab Negara Kertagama yang ditulis Empu Praspanca. Oleh karena itu bisa dipahami Raja Hayam Wuruk dalam kunjungannya ke daerah Blitar beberapa kali mampir di candi ini. Bahkan Hayam wuruk dan Mahapatihnya, Gajahmada pernah menginap di candi ini. Disebut juga candi Sumberjati, terletak di desa Sumberjati Kec.Kademangan Kab Blitar. Dari arah Kota Blitar kita ke jalan raya ke arah Tulung Agung, setelah melewati jembatan sungai Brantas, melintas ke kiri melalui jalan desa, penduduk setempat cukup faham lokasinya. Saat ini candi Simping masih dalam keadaan berupa reruntuhan, namun pada saatnya, merupakan persemayaman abu jenazah Raden Wijaya (1293 – 1309 M), negeri kerajaan Majapahit dalam perwujudannya sebagai Hari-Hara (gabungan Wishnu dan Shiwa). Candi ini disebut-sebut di naskah Negarakertagama, dan direnovasi oleh Raja Hayamwuruk pada tahun 1285 Syaka (1363 M), kontruksi gambar yang dibuat oleh Dinas Kepurbakalaan menggambarkan candi ini indah dan ramping meninggi. Pada batur candi setinggi 75 cm, panjang 600 cm dan lebar 750 cm ini terpahat relief berbagai macam binatang. Di antaranya Singa, angsa, merak , burung garuda, babi hutan dan kera. Di sisi barat ada tangga (flight step) yang dulu digunakan sebagai jalan masuk ke ruang candi. Di tengah-tengah batur candi ini terdapat batu berbentuk kubus dengan ukuran 75 cmx 75 cm x 75 cm. Pada bagian atas batu ini dipahat relief kura-kura dan naga yang saling mengkait mengitari batu tersebut. Tak jelas apa guna atau fungsi batu berbentuk kubus ini. Para sejarawan memperkirakan batu ini berfungsi sebagai tempat sesajian untuk para desa. Pada badan candi yang direkontruksi di halaman candi terdapat hiasan-hiasan bermotif sulur-suluran dan bunga. Sementara pada mustaka candi terdapat pelipit-pelipit garis dan bingkai padma (bunga teratai). Dari rentuhan yang ada diperkirakan bentuk candi Simping ini ramping (slime) sebagaimana bentuk jandi-candi Jawa Timuran. Di atas pintu utama dipahat kepala Kala yang kelihatan menyeramkan sebagai penjaga pintu Pahatan kepala kara ini, seperti umumnya kepala Kara model Jawa Timuran, tidak dilengkapi dengan Makara. Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat cerukan yang masing-masing di atasnya juga terpahat patung Kala. Pahatan (patung) kepala Kala ini sekarang nampak berserakan di halaman candi. Di halaman candi sebelah timur laut terdapat tiga buah Lingga-Yoni kecil. Tak jelas Lingga-Yoni ini dulu ditempatkan dimana. Hanya saja anehnya, pada bagian bawah Lingga untuk menancapkan ke Yoni ini tidak berbentuk silinder, tetapi segi empat. Sedangkan dibagian atas bersegi delapan. Di dekat Lingga-Toni ini ada beberapa patung yang tak jelas patung siapa karena kepalanya sudah tidak ada sehingga tidak bisa dikenali. Di sudut tenggara halaman candi terdapat patung singa yang duduk di atas padmasana. Sayang patung singa ini kepalanya sudah tidak ada, tinggalm badanya saja. Sedangkan di sebelah selatan batur candi terdapat sebuah lingga miniatur candi. Diduga kuat di sini ada patung Hari Hara yang kini tersimpan di musium Jakarta. Kondisi Candi Simping tidak memungkinkan untuk dipugar. karena terlalu banyak bagian candi yang hilang Kitab Negarakretagama menyebutkan candi itu merupakan tempat Raden Wijaya diperabukan. ”Akan tetapi, kitab itu juga menyebutkan bahwa Raden Wijaya diperabukan di Candi Brau Trowulan. Candi itu juga memiliki relief jenis pradasina, relief yang dibaca searah jarum jam. Biasanya relief pradasina tidak digunakan pada candi yang berfungsi sebagai makam Peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta Nurhadi Rangkuti menulis bahwa kakawin Nagarakretagama mencatat Krtarajasa meninggal pada tahun Saka 1231 (1309 M) dan di-dharma-kan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis Di Candi Simping itu sebenarnya ada arca setinggi 2 meter yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Dalam Negarakretagama disebutkan Hayam Wuruk berkunjung beberapa kali, hingga pada tahun Saka 1285 (1363 M) memindahkan candi makam Kertarajasa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Sejarah Candi Penataran

Orang bijak mengatakan, “Sejarah adalah masa lalu, masa kini adalah waktu yang harus dijalani dan masa depan adalah misteri”. Namun sejatinya kalau kita mau lebih arif lagi, ketiga masa tersebut adalah sebuah satu kesatuan yang saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain. Peninggalan-peninggalan purbakala yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara memberikan gambaran yang nyata betapa kayanya warisan budaya Bangsa Indonesia yang harus digali dan dijaga.

Candi Panataran yang terletak di sebelah utara Blitar adalah satu-satunya komplek percandian yang terluas di kawasan Jawa Timur. Berdasarkan laporan Dinas Purbakala tahu 1914-1915 nomor 2045 dan catatan Verbeek nomor 563, merupakan bangunan kekunaan yang terdiri atas beberapa gugusan sehingga disebut Komplek Percandian. Lokasi bangunan candi ini terletak di lereng barat-daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter dpl (di atas permukaan air laut), di desa yang juga bernama Panataran, Kecamatan Nglegok, Blitar. Hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Blitar atau kurang lebih setengah jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Dengan jalan yang relatif mulus dan cukup lebar hingga di depan komplek candi.
Candi Panataran ditemukan pada tahun 1815, tetapi sampai tahun 1850 belum banyak dikenal. Penemunya adalah Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826), Letnan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris yang berkuasa di Negara Indonesia. Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul “History of Java” yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari diikuti oleh para peneliti lain yaitu : J.Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di komplek percandian Panataran.

Memasuki areal Candi, di pintu utama kita akan disambut dua buah arca penjaga pintu atau disebut dengan Dwaraphala yang dikalangan masyarakat Blitar terkenal dengan sebutan “Mba Bodo”. Yang menarik dari arca penjaga ini bukan karena arcanya yang besar, namun karena wajahnya yang menakutkan (Daemonis). Pahatan angka yang tertera pada lapik arca tertulis dalam huruf Jawa Kuno : tahun 1242 Saka atau kalau dijadikan Masehi (ditambah 78 tahun) menjadi tahun 1320 Masehi. Berdasarkan pahatan angka yang terdapat pada kedua lapik arca, bahwa bangunan suci palah (nama lain untuk Candi Panataran) diresmikan menjadi kuil negara (state-temple) baru pada jaman Raja Jayanegara dari Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328 Masehi.

Di sebelah timur Arca terdapat sisa-sisa pintu gerbang yang terbuat dari bahan batu bata merah. Bangunan penting lainnya yang terdapat disekitar gerbang adalah bangunan yang berbentuk persegi panjang yang disebut dengan Bale Agung. Kemudian bangunan bekas tempat pendeta yang hanya tinggal tatanan umpak-umpak saja. Sebuah bangunan persegi empat dalam ukuran yang lebih kecil dari Bale Agung adalah Pendopo Teras atau batur pendopo yang berupa candi kecil berangka tahun yang disebut Candi Angka Tahun, dimana bangunan-bangunan tersebut terbuat dari bahan batu andesit.
Di sebelah selatan bangunan candi masih berdiri tegak sebuah batu prasasti atau batu bertulis. Prasasti ini menggunakan huruf Jawa Kuno bertahun 1119 Saka atau 1197 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Srengga dari Kerajaan Kediri. Isinya antara lain menyebutkan tentang peresmian sebuah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah (Candi Panataran). Jadi proses pembangunan komplek Candi Panataran memakan waktu sekurang-kurangnya 250 tahun, dimana mulai dibangun tahun 1197 pada jaman Kerajaan Kediri sampai tahun 1454 pada jaman Kerajaan Majapahit.

Candi berikutnya adalah Candi Naga yang terbuat seluruhnya dari batu dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter. Disebut Candi Naga karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan fitur-fitur atau tokoh-tokoh seperti raja sebanyak sembilan buah. Diantara bangunan candi yang paling besar adalah candi induk, yang terletak dibagian yang paling belakang yaitu bagian yang dianggap suci. Bangunan candi induk terdiri dari tiga teras bersusun dengan tinggi seluruhnya 7,19 meter. Pada masing-masing sisi kedua tangga naik ke teras pertama terdapat arca Dwaraphala, pada alas arca terdapat angka tahun 1269 Saka atau 1347 Masehi.

Pada bagian paling belakang candi terdapat kolam suci, yang konon ceritanya adalah kolam yang dipergunakan sebagai tempat ibadah ritual. Sisa-sisa kemewahan masa lampau memang masih terlihat dari bangunan kolam mini ini. Kolam yang berukuran sekitar 2 x 5 meter ini terlihat bersih dan tertata bagus. Membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 1 jam untuk menelusuri keseluruhan areal Candi Panataran. Karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kota Blitar sekaligus masih satu jalur dengan tempat wisata ziarah Makam Bung Karno, maka jika kebetulan anda berkunjung ke Blitar tak ada salahnya untuk menyempatkan waktu berkunjung ke Candi Panataran sebagai salah satu wujud penghargaan terhadap sejarah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar