RSS

Sejarah Aryo Blitar

16 Mar

Dahulu Bangsa Tartar sempat menguasai tanah Blitar, yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit sebagai penguasa nusantara merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya itu mengutus Niluswara untuk memukul mundul Bangsa Tartar.

Sejarah pun Bergulir
Keberhasilan berpihak pada Niluswara. Ia akhirnya dianugerahi gelar Adipati Aryo Blitar I dan memimpin Blitar. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembalinya bangsa Tartar. Namun pada perkembangannya, terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja seorang patih Kadipaten Blitar.

Namun keberuntungan kini beralih. Aryo Blitar I lengser dan senguruh meraih tahta dengan gelar adipati aryo blitar II. Pemberontakan kembali terjadi. Aryo blitar II dipaksa turun oleh Djoko Kandung yang merupakan anak dari Aryo Blitar I. Djoko Kandung adalah anak hasil perkawinan antara Aryo Blitar I dengan Dewi Rayung Wulan.

Kepemimpinan Djoko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda di bumi pertiwi. Sebenarnya rakyat Blitar yang multi etnies telah melakukan perlawanan. Tapi, perlawanan itu diredam oleh Belanda dengan membuat peraturan baru.

Belanda menetapkan Blitar sebagai Gemeente Blitar pada 1 April 1906 berdasarkan peraturan Staatsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150. Momen inilah yang sampai sekarang diakui sebagai hari kelahiran Bumi Bung Karno itu. Pada tahun itu juga dibentuk beberapa kota lain di Indonesia yang berdasarkan catatan sejarah sebanyak 18 Kota yang meliputi kota Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Magelang Semarang, Salatiga, Madioen, Blitar, Malang, Surabaja dan Pasoeroean di Pulau
Jawa serta lainnya di luar Jawa.

Sampai pada kedatangan jepang, Gameente Blitar berubah menjadi Blitar Shi yang penyelenggaraannya dikendalikan oleh peraturan baru bernama Osamu Seerai. Namun jepang sepertinya salah langkah menginjakkan kakinya dikota kecil itu.
Keniscayaan Merdeka
Anak didiknya, PETA mmberontak pada 14 Februari 1945 yang dipimpin seorang terhormat Sudanco Supriyadi. Meski hanya berlangsung beberapa jam dan gagal, pemberontakan itu tercatat sebagai satu-saunya pemberontakan yang dilakukan oleh anak didik kepada pelatihnya di Asia Tenggara dan Asia Timur yang merupakan jajahan negeri sakura itu. pemberontakan itu membuka mata dunia bahwa peluang meraih kemerdekaan dan memukul mundur penjajah masih terbuka lebar.

Pemberontakan itu, diakui atau tidak, telah menginspirasi pemuda-pemuda bangsa ini untuk terus berjuang merampas kembali hak-hak kemerdekaan ang diambil penjajah. Hingga akhirnya Indonsia merdeka yang ditandai pembacaan proklamasi oleh putra terbaik bangsa, Bung Karno, didampingi Bung Hatta.

Tanah yang Terkucilkan
Perihal penempatan makam Bung Karno, yang juga menjadi awal Blitar disebut sebagai Bumi Bung Karno, memang berawal dari niat buruk pemerintah. Konflik antara Soekarno dengan Soeharto adalah biangnya. Pemerintah orde baru menetapkan Blitar sebagi Kotamadaya berdasar pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965. Namun, ternyata Pemerintah orde baru berniat mengucilkan nama Sorkarno beserta Blitar secar politik. Namun kenginan itu ternyata ditolak oleh arus kuat yang melawan.

Alih-alih terkucilkan, masyarkat nusantara mengenal baik Blitar sebagi kota sejarah yang tak akan terlupakan. Blitar semakin ramai dikunjungi hingga kini. Keganasan Bung Karno dalam melawan penjajah mesih terpatri dalam ingatan rakyat Indonesia. Blitar yang dikucilkan menyeruak mekar ke permukaan dan menunjukan bahwa disinilah momen sejarah kemerdekaan terbaik pernah berlangsung. Hadirnya makam Bung Karno yang berpadu dengan momen pemberontakan PETA, menegaskan aura sejarah yang kental di kota kecil itu.

Akhirnya kekangan orde baru lepas benar ketika drama panas 1998 memaksanya bubar. Pemerintahan reformasi menggantikan otokrasi orde baru. Pemerintah baru itu mengeluarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Melalui Undang-undang tersebut, sebutan Kotamadya Blitar disesuaikan menjadi Kota Blitar. Hingga menjelang satu abad usia kota ini, Kota Blitar dihuni oleh sekitar 125 ribu jiwa.

Sebenarnya era orde baru telah memberikan banyak sumbangan pembangunan pada bangsa ini. GBHN dan repelita tercatat sejarah sebagai garis visi bangsa yang cemerlang. Kegemilangan ini didukung oleh realita pembangunan yang terus berjalan maju. Angka pertumbuhan ekonomi berjalan membaik. Era ini juga berhasil meyakinkan rakyat bahwa negara tak akan kekurangan pangan. Terbukti swasebada pangan tecatat beberapa kali diraih.

Tapi sistem sentralistik yang mengendalikannya begitu mengusik dan mengganggu. Sistem itu seperti menyimpan nyala api yang siap membakar sekam reputasi. Kerobohan banguan orde baru pada 1998 membakar betul reputasi baiknya. Kisah-kisah sukses dan gemilang orde baru seakan terlupa.

Kini era reformasi juga belum berjalan baik. Orientasi politik malah semakin menjadi-jadi. Sistem desentralisasi yang didengung-dengungkan berjalan tertatih-tatih yang makin pincang saja. Pemerataan tak kunjung selesai. Dan sayang, imbas itu merayap hingga menjalar ke Bumi Bung Karno.

Dulu ia sejajar dengan kota-kota lain seperti Batavia (Jakarta), Surabaya dan Bandung. Sebagai pusat administrasi daerah di jaman Belanda, Kota Blitar memiliki posisi yang strategis. Tapi sekarang Blitar telah ketinggalan jauh. Kota-kota itu menjelma menjadi raksasa nusantara, sementara Blitar masih jalan ditempat.

Demi Bumi Bung Karno
Menyedihkan lagi, bila melihat generasi muda Bumi Bung Karno yang semakin tak punya visi. Aku sering melihat mereka tak fokus dalam berpartisipasi membangun tanah kelahirannya. Kongkow-kongkow tak jelas menjadi ajang harian. Memajang diri dengan berbagai kemalasan malah menjadi kebanggaan. Aku juga tak paham mengapa hal ini bisa terjadi. Pendidikan yang menjadi senjata utama pemuda dalam konteks kekinian sekan diacuhkan.

Memang ada beberapa yang gemilang, tapi mayoritas menetang dan menenggelamkan arus situ. Paradigma kenikmatan jangka pendek seakan menggelayuti pikran-pikiran mereka. Budaya-budaya instan dari luar mereka telan mentah-mentah. Sejarah besar kota penting itu seakan pudar lekang ditelan zaman, karena tak dirawat oleh tuan rumahnya sendiri. dan yang menyesakkan, yang menelan bukan orang lain, tapi putera-putera daerahnya sendiri.

Apa mungkin mereka tak tahu kalau para pahlawan di tanah kelahirannya itu rela mampertaruhkan nyawa demi kebebasan dan kemerdekaan. Dan sayang sekali, aku adalah bagian dari mereka. Ya, aku adalah salah satu yang tak tahu sejarah dan mungkin tak tahu balas budi.

Tapi, sejenak aku sadar, bahwa tanahku ini adalah kampung halamanku. Punya visi masa depan adalah kenicscayan bagiku. Siapa lagi yang akan menharumkan kebesaran tanah Balitar ini kalau bukan putera daerahnya sendiri. Reputasi kota kecil itu juga reputasiku. Kalaupun aku dikenal baik oleh orang lain, tapi asalku adalah kubangan lumpur, siapa yang mau melirik?

Peradaban dunia telah terbukti terbangun dengan pondasi pengetahuan. Kesadaran akan perlunya pendidikan harus aku tanamkan pada diri. Harus. Sejarah besar kepahlawanan kotaku harus aku camkan dalam-dalam di relung-relung pikiran. Ini bukan demi siapa-siapa, tapi demi tanah kelahiranku, Bumi Bung Karno.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2011 in Kabar Blitar

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: